Genjer-Genjer

Tiba-tiba mendadak mendengarkan lagu yang sudah lamaaaa sekali amat sangat. lagu ini keluar Populer sekitar tahun 60an, ketika ada pembersihan anggota PKI atau yang dituduh PKI. Pembersihan sangat kontroversi disamping ingin memberikan maksud baik untuk menghilangkan ide2 PKI tapi ujung2nya adalah banyak pelanggaran HAM. Saya telah membrowsing di internet untuk mengetahuii sejarah lagu ini kenapa sangat fenomenal. Menurut beberapa keterangan yang ada di website, lagu ini dulu di nyanyikan oleh gadis-gadis cantik pada saat zaman partai Komunis Indonesia ini beredar di Indonesia. Pada saat rezim soekarno yang masih menganut Nasakom, kehidupan partai yang katanya revolusioner ini masih tumbuh subur di Indonesia. Jangankan untuk sekedar menyanyikan, mendengarkan saja (lewat PH atau pita gulung) orang dulu sudah sangat takut, apalagi menyimpan piringan hitam atau pitanya. Bahkan menyebut nama lagu pun terkadangtakut kedengaran orang dan diciduk oleh militer rezim Soeharto.

Yang saya ingat pada era pencidukan, bukan hanya militer, tetapi juga massa. Ayah saya yang seorang anggota polisi saja tidak mampu berbuat banyak ketika massa menyerbu rumah seseorang yang diindikasikan anggota organisasi terlarang itu.

Tidak jauh dari rumah saya ada bekas bangunan markas Belanda yang dikelilingi tembok setinggi 3 meter lebih. Setiap pukul 6.00 sore selalu terdengar lolongan orang kesakitan dan minta tolong. Ini bukan cerita hantu, tetapi penyiksaan orang2 yang diciduk, terutama anggota gerwani.

Miris dan sangat miris, tapi semua orang dewasa hanya bisa diam dan semakin membuat suasana menakutkan serta trauma berkepanjangan. Semua berlalu begitu saja, pengadilan tidak lagi berperan dan yang tewas hanya dibungkus tikar, entah dikubur di mana.

Sisa-sisa kekejian satu dua tahun kemudian masih terlihat di beberapa tempat, salah satunya di sungai pasir Pandan Simping. Sungai yang penuh pasir Merapi (lebih tinggi dari jalan di sampingnya) ini terletak di perbatasan Klaten-Prambanan. Saya masih ingat, sekitar tahun 68-69 sering bersama ibu berziarah ke Goa Maria Sendang Sriningsih. Kami harus melewati sungai pasir itu dan sisa2 kekejaman masih nampak, tulang belulang manusia, termasuk tengkorak berserakan di sungai yang tidak kelihatan airnya itu. Sebuah pemandangan yang tidak sehat bagi kejiwaan seorang anak berusia 8-9 tahun. Bukti2 ini sekarang sudah tidak nampak lagi, sungai itu sudah kehilangan pasirnya. Dan tulang belulang juga lenyap terseret air banjir.

Sebuah era yang menakutkan, mendengar lagu itu saya masih merinding dan rasa takut masih terasa di kudukku. Membayangkan orang2 desa berlari diberondong peluru dan yang tertangkap disuruh menggali lubang kuburnya di kali pasir dan dipenggal, cerita sehari2 yang mewarnai hari2 “pembersihan” itu sekarang sudah ikut terkubur zaman.

http://serbajadul.blogspot.com/2010/02/genjer2-bikin-merinding.html

Advertisement

, , ,

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.